Home

Pagelaran Seni Budaya Keraton Pakunegara Tayan diadakan karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan terhadap masyarakat yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi sehingga menumbuhkan generasi bangsa yang berprestasi yang akan menjadi tujuan utamanya dengan melalui pendekatan. Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural.

Multilingual bermakna pengembangan,menumbuhkan,serta meningkatkan kemampuan mengekspresikan sesuatu secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika.

Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuh kembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.

  • Mandi Bedil Kerajaan, Ritual mandi bedil kerajaan dilaksanakan di Keraton Pakunegara Tayan adalah tradisi yang sudah dilakukan nenek moyang Keraton Tayan, yang dilakukan setahun sekali. Pada zaman dahulu, air dari ritual mandi betil ini dibagikan kepada masyarakat untuk disiram pada tanaman di ladang maupun kebun;
  • Mandi Keris Kerajaan, Mandi Keris adalah ritual yang sakral yang dilakukan setiap tahun yang mana hal ini dilakukan pihak keraton, pada bulan Besar, Sura atau Maulud, atau juga bulan yang lain yang dianggap baik, pembersihan ini secara menyeluruh baik eksoteri maupun isoteri;
  • Perang Ketupat, Perang Ketupat adalah tradisi turun temurun yang dilakukan masyrakat Tayan untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberkahan yang telah diberikan pada tanah dan air di daerah Tayan;
  • Tradisi Tolak Bala, Merupakan ritual yang dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur karena cita-cita, hajat, ataupun permintaan tercapai, dengan cara berdoa bersama disertai dengan makan besaprah beramai-ramai dan dirangkai dengan tradisi buang-buang ke sungai bertujuan untuk penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan sungai dan laut sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat, dengan meletakkan sesaji diatas air sungai yang terdiri dari beras kuning, peretih, telur, dan setanggi, kemudian diakhiri dengan membagikan pulut yang sudah dibacakan doa oleh sesepuh kepada masyarakat sekitar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s