Home

1. UU RI No. 5 / 1992

  • Ketentuan umum mengenai Benda Cagar Budaya, Situs dan Lingkungan Cagar Budaya
  • Tujuan pelestarian : melindungi dan memanfaatkan benda cagar budaya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia

2. Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Cagar Budaya,

Pelestarian lingkungan cagar budaya dibagi dalam 3 (tiga) golongan, yaitu :

  • Lingkungan Cagar Budaya Golongan I
  1. Lingkungan yang memenuhi seluruh kriteria, termasuk yang mengalami sedikit perubahan, tetapi masih memiliki tingkat keaslian yang utuh
  2. Lingkungan dan bangunan tidak boleh diubah dari aslinya
  3. Apabila kondisi fisik lingkungan buruk dan rusak dapatdilakukan perbaikan atau pembangunan kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya dengan menggunakan bahan / komponen tang sama / sejenis atau memiliki karakter yang sama.
  • Lingkungan Cagar Budaya Golongan II
  1. Penataan lingkungan dilakukan dengan tetap mempertahankan keaslian unsur-unsur lingkungan serta arsitektur bangunannya yang menjadi ciri khas kawasan.
  2. Apabila kondisi fisik mengalami kerusakan dan atau kemusnahan maka dimungkinkan dilakukan pembangunan baru
  3. Dimungkinkan dilakukan adaptasi terhadap fungsi fungsi baru sesuai rencana kota.
  4. Pelestarian bangunan cagar budaya yang berada di lingkungan ini harus mengikuti ketentuan pemugaran bangunan cagar budaya dengan golongan yang lebih tinggi atau terbanyak jumlahnya
  • Lingkungan Cagar Budaya Golongan III
  1. Penataan lingkungan dapat dilakukan dengan penyesuaian-penyesuaian terhadap rencana kota dengan tidak mengurangi unsur keaslian terutama yang menjadi ciri khas kawasan
  2. Dimungkinkan adanya pembangunan baru
  3. Pemugaran bangunan cagar budaya yang di lingkungan ini harus mengikuti.ketentuan pemugaran bangunan cagar budaya sesuai dengan golongannya.

3. Kriteria Penilaian Penentuan Lingkungan Cagar Budaya

  1. Nilai sejarah
  2. Usia / Umur Lingkungan
  3. Keaslian
  4. Kelangkaan

4. Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Cagar Budaya

Bangunan cagar budaya dari segi arsitektur maupun sejarahnya terbagi dalam 3 (tiga) golongan, yaitu :

  • Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan A
  1. Bangunan dilarang dibongkar dan atau diubah
  2. Apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya.
  3. Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan yang sama/sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada.
  4. Dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian / perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya
  5. Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi satu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama
  • Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan B
  1. Bangunan dilarang dibongkar secara sengaja, dan apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya
  2. Pemeliharan dan perawatan bangunan harus dilakukan tanpa mengubah pola tampak depan, atap, dan warna, serta dengan mempertahankan detail dan ornament bangunan yang penting.
  3. Dalam upaya rehabilitasi dan revitalisasi dimungkinkan adanya perubahan tata ruang dalam asalkan tidak mengubah struktur utama bangunan
  4. Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi satu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama.
  • Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan C
  1. Perubahan bangunan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan pola tampak muka, arsitektur utama dan bentuk atap bangunan
  2. Detail ornamen dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur bangunan disekitarnya dalam keserasian lingkungan
  3. Penambahan Bangunan di dalam perpetakan atau persil hanya dapat dilakukan di belakang bangunan cagar budaya yang harus sesuai dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian lingkungan
  4. Fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana kota

5. Kriteria dan Tolak Ukur Pemugaran bangunan

  1. Nilai sejarah
  2. Usia/Umur Lingkungan
  3. Keaslian
  4. Kelangkaan
  5. Tengeran /Landmark
  6. Arsitektur
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s