Home

trip airKalimantan sebagai pulau besar di Indonesia memiliki karakteristik geografis permukiman yang berbasis sungai. Untuk itu pola penataan kawasan yang berada di kawasan temu-bidang (‘interface’) ekosistem daratan-perairan dan kawasan ‘interface’ perkotaan-pedesaan perlu mendapat perhatian cukup serius. Sebagai ilustrasi, transformasi morfologi Kota Tayan lebih banyak dimaknai suatu tradisi yang melahirkan persepsi ruang kota dengan pola ‘kepala-badan-ekor’, terutama secara tradisi Melayu, sungai sering persepsinya diposisikan secara horizontal. wrSehingga untuk menandai suatu lokasi di tepian sungai seringkali digunakan istilah kepala (hulu) dan ekor sebagai arah mengalirnya air sungai.

Maka dari itu pandangan dikotomis antagonistic karakter perkotaan dan pedesaan tidak nampak di Kota Tayan yang memiliki dua karakter tersebut diatas sekaligus. Sehingga proses temu bidang antara pedesaan dan perkotaan dapat dikatakan tidak begitu terlihat secara nyata dalam perbedaan tetapi lebih dalam bentuk interaksi yang bersifat ‘transparan mengalir’ sesuai dengan peradaban kota-kota air di Asia Tenggara yang lebih bersifat simbiosis dalam berinteraksi dengan alam serta berusaha mengisi setiap ruang yang ada secara lebih fleksibel/luwes.

Seiring perkembangan Kota Tayan, peningkatan perekonomian masyarakat sedikit banyak mempengaruhi fasad bangunan arsitektur lama (rumah panggung) yang semula berorientasi pada sungai yang kini menjadi bangunan-bangunan baru dengan gaya arsitektur modern.

Secara historis, eksistensi terbentuknya komunitas ruang perkotaan tepian air dapat dibedakan menjadi 2 kelompok. Pertama, masyarakat yang tradisi menetap dan berkembang pada lokasi di kawasan tepian air dengan basis budaya perairan (water culture). Kedua, kelompok masyarakat yang menghuni kawasan tepian air akibat proses urbanisasi dengan dasar pertimbangan budaya huni pada keterbatasan lahan (masyarakat ‘marginal’). Maka kegiatan yang berkembang dikedua kawasan dengan komunitas yang berbeda tersebut menunjukkan karakter yang berbeda.

Komunitas ‘w1367126423440ater 20130428_121929culture’ mempunyai bentuk komposisi masyarakat yang relatif homogen serta mempunyai karakter kegiatan yang berbasis pada ‘aquatic environment’ (misalnya: mata pencaharian, festival-festival tradisional, dsb). Sedangkan komunitas urban yang berada di ruang publik kawasan tepian air relatif lebih heterogen serta tidak mempunyai basis kultural kegiatan yang berorientasi pada budaya perairan.

Perkampungan penduduk yang memadati ruang terbuka sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Tayan anak Sungai Kapuas, kampung kerajaan tersebar di berbagai desa di tepi Sungai Kapuas, Sungai Tayan dan Pulau Tayan,terbentuk mengikuti garis panjang sungai (koridor) telah ada sejak dahulunya dari hilir hingga hulu sungai dan memusat di sekitar kawasan Keraton. Adapun keberadaan kampung/Desa tersebut dilihat dari keberadaan sekelompok hunian rumah-rumah panggung dengan orientasi bangunan menghadap ke sungai.

 

 

 

Kampung tersebut diantaranya ;

    • Koridor Sungai Kapuas (hilir-hulu) sungai meliputi Kampung Beginjan – Engkapar – Pedalaman – Bunut – Piasak – Pulau Tayan – Kawat – Entajau – Pulau Belugai;
    • Koridor Sungai Tayan (hilir-hulu) meliputi kampung-kampung yang berada sepanjang Sungai Tayan hingga ke Kawasan Bukit Rayang yaitu Kuala Tebang – Empelai – Melugai (Rayang).

SS

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s