Home

Berbicara mengenai sejarah terbentuknya Kota Tayan tidak terlepas dari sejarah berdirinya Kerajaan Tayan. Kota Tayan yang sekarang menjadi Ibukota Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau dari salinan buku “ Sejarah Hukum Adat dan Istiadat di Kalimantan Barat ” karangan J.U Lontaan, serta catatan tertulis dari Gusti Muhammad Thahir berjudul “ Sejarah dan Silsilah Kerajaan Tayan “, diketahui bahwa Kerajaan Tayan didirikan oleh Gusti Lekar (tahun pendirian belum diketahui dengan pasti) anak kedua dari Panembahan Dikiri Raja Matan.

Gusti Lekar datang ke Tayan pada awalnya bertujuan untuk mengamankan upeti dari rakyat daerah tersebut kepada Kerajaan Matan yang sering dirampok oleh Raja di Kuala Labai.

Kerajaan Tayan di dirikan oleh Gusti Lekar, anak kedua dari Panembahan Dikiri (Raja Matan). sedangkan anaknya yang pertama bernama Duli Maulana Sultan Muhammad Syarifuidin, menggantikan ayahnya menjadi Raja Matan. Sultan Muhammad Syarifudin adalah Raja pertamayang memeluk agama islam oleh tuan Syech Syamsuddin dan mendapat hadiah dari raja mekah sebuah Qur’an kecil dan sebentuk cincin bermata jamrut merah. Kedatangan Gusti Lekar di Tayan semulanya untuk mengamankan upeti dari rakyat daerah itu kepada kerajaan matan, sebelumnya pembawa upeti tersebut selalu mendapat gangguan oleh seseorang yang mengatakan dirinya raja di kuala lebai. untuk semuanya itu Gusti Lekar bersama seorang suku dayak bernama Kia Jaga dari Tebang berhasil mengamankan upeti tersebut sampai ke kerajaan Matan.

Berdirinya Kerajaan Tayan ini pada awal abad ke-15 mengenai asal – usul nama Tayan ini masih terdapat berbagai versi, antara lain:

  1. Asal kata TA artinya TANAH dan YAN artinya TAJAM (TANAH TAJAM) Apakah ini dimaksudkan dengan kondisi tanah ujung Tanjung, disitu tempat mulai dibuka atau didirikan kota Tayan.
  2. Asal kata TAI artinya BESAR dan AN artinya KOTA (KOTA BESAR). Sebuah tempayan yang di tenggelamkan di muara Sungai Tayan sebagai tanda mulai berdirinya Kota Tayan.

Gusti Lekar wafat di makamkan di sebuah bukit dekat Kota Meliau, karena tempat atau bukit tersebut masih termasuk wilayah Kerajaan Tayan. Dengan wafatnya Gusti Lekar ini, maka sebagai penggantinya menjadi raja di Tayan di angkatlah Gusti Gagok dengan gelar Pangeran Manca Ningrat, beristrikan Utin Halijah dan memperoleh seorang anak yang di beri nama Gusti Ramal. sedangkan saudaranya yang lain, yaitu Gusti Manggar menjadi Raja di Meliau, Gusti Togok menjadi Raja di Sanggau dan Utin Peruan kawin dengan abang sebatang hari seorang pangeran di Embau Hulu Kapuas (Kapuas Hulu).

Sejak itu ibu kota Kerajaan Tayan di pindahkan ke suatu tempat bernama Rayang. Ditempat ini masih terdapat peninggalan berupa Makam Raja-raja dan sebuah meriam, yang konon atau menurut cerita meriam ini tidak mau dipindahkan ketempat lain dan pada saat-saat tertentu posisinya dapat berubah sendiri. Dengan berakhirnya masa Kerajaan Tayan ini, status keraton di jadikan monumen peninggalan sejarah yang dilindungi (Monumen Ordonansi No. 238 tahun 1931) dan mendapat bantuan biaya pemeliharaan dari Pemerintahan Daerah TK I Kalimantan Barat. Peninggalan sejarah lainnya yaitu sebuah Mesjid Jami’ yang letaknya kurng lebih 100 mater kearah Barat Keraton dan Makam Raja-raja serta puluhan meriam peninggalan VOC.

Kerajaan Tayan pertama kali ditempatkan di daerah Tayan, setelah Gusti Lekar wafat dimakamkan disebuah bukit yang tidak jauh keberadaannya dari Kota Meliau Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau. Gusti Lekar wafat dan digantikan oleh putranya yang bernama Gusti Gagok yang bergelar Manca Diningrat. Kemudian Gusti Gagok memindahkan Ibukota Kerajaan Tayan ke suatu tempat bernama Rayang. Hingga saat ini kawasan Rayang masih didapati peninggalan Kerajaan Tayan berupa makam Raja-Raja beserta kerabat kerajaan dimana dikawasan tersebut ditandai keberadaan sebuah meriam. Setelah Pangeran Mancadiningrat (Gusti Gagok) wafat, Raja Tayan diganti oleh anak pertamanya bernama Gusti Ramal yang bergelar Pangeran Marta Jaya Kusuma.

Sejak pemerintahan Gusti Kamaruddin yang bergelar Pangeran Suma Yuda yang menggantikan ayahnya Gusti Ramal menjadi Raja tayan. Dalam masa pemerinthannya itu, terjadi peperangan antara Kerajaan Tayan dengan Kerajaan Pontianak. Kerajaan Sanggau dan orang-orang China dari wilayah Mentrado Bengkayang. Setelah wafatnya Pangeran Suma Yuda (Panembahan Tua), diangkatlah anaknya yang bernama Gusti Mekkah yang kemudian bergelar Panembahan Natakusuma (Panembahan Muda).
Pada masa pemerintahan Natakusuma inilah tercatat bahwa beliau yang mula-mula mengikat perjanjian dengan Nederland Indie Gouverment pada bulan November tahun 1822.

Panembahan Natakusuma mangkat pada tahun 1825 dengan tidak meninggalkan seorang putra. Maka yang menggantikan menjadi Raja Tayan adalah saudaranya Panembahan Tua yaitu Utin Belondo yang bergelar Ratu Utin Belondo (Ratu Tua) sedangkan yang menjalankan pemerintahan kerajaan adalah suaminya Gusti Hasan Pangeran Ratu kusuma dengan gelar Panembahan Mangku Negara Surya Kusuma. Pada tahun 1855 Panembahan Mangku Negara Surya Kusuma wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Gusti Inding yang bergelar sama dengan ayahnya. Juga bergelar Panembahan Haji.

Dalam tahun 1858 oleh pemerintahan Belanda (Gouverment Hindia Belanda) gelar beliau diganti menjadi Panembahan Anom Pakunegara Surya Kusuma. Pada masa itu terjadi peperangan antara kerajaan Tayan dengan Kerajaan Landak (Ngabang). Oleh karena beliau sudah sangat tua, maka roda pemerintahannya diserahkan kepada adiknya yang bernama Gusti Karma. Beliau meninggal dunia pada tanggal 23 November 1873 (1290 H) di Batang Tarang. Gusti Karma kemudian diangkat menjadi Raja Tayan dan diberi gelar Panembahan Adi Ningrat Kusuma Negara dan beliau memerintah hingga tahun 1880 yang kemudian digantikan anaknya bernama Gusti Muhammad Ali disebut pula dengan nama Gusti Indung bergelar Panembahan Pakunegara Kusuma dinobatkan menjadi Raja tayan di Rayang. Beliau beristrikan Utin fatimah dan memperoleh 12 anak.

Dalam masa pemerintahan beliau, mengikat kontrak baru dengan pemerintahan belanda yaitu Akte Van Verband en Bekrachting di Rayang, 2 April 1880, Goedgekeurd 23 April 1883 Nomor 12. Dalam masa pemerintahannya Ibukota tempat kedudukan Raja dipindahkan dari Istana Rayang ke Tayan (berawal di kawasan Teluk Kemilun dan kemudian berpindah ke Desa Pedalaman hingga saat ini) dan sekaligus membangun istana/keraton baru yang dibangun oleh rakyat Tayan untuk Raja Tayan. Keraton ini hingga pada saat ini masih berdiri dan ditempati oleh para ahli warisnya. Pada tanggal 26 Februari 1890 oleh Gouverment Hindia Nederland, Kerajaan Meliau dimasukkan kedalam wilayah/daerah Kerajaan Tayan. Panembahan Gusti Muhammad Ali memegang jabatan selama 15 tahun (1890 s/d 1905), beliau wafat dan dimakamkan dikompleks Makam Raja-Raja Tayan didesa kawat sekarang (jaraknya 0,5 km dari Keraton).

Sejak dipindahkan pusat kerajaan dari Rayang ke tempat yang baru, dan bertempat tinggal diistana/keraton tersebut telah sempat memerintah 4 orang Panembahan, yaitu :

  1. Gusti Muhammad Ali (Panembahan Pakunegara Kusuma) 1875 – 1905 M
  2. Gusti Tamdjid (Panembahan Anom Pakunegara) 1905 – 1929 M
  3. Gusti Djafar (Panembahan Anom Adi Negara) 1929 – 1943 M
  4. Gusti Ismail (Panembahan Anom Pakunegara) 1946 – 1967.

Zaman pemerintahan Gusti Ismail tetap menjadi Raja Tayan sampai pada masa pemerintahan Swapraja diserahkan pada tahun 1960. Tetapi beliau masih bekerja terus sebagai Wedana Tayan. Dalam kedudukan sebagai Wedana Tayan, Gusti Ismail dipindahkan dan diperbantukan dikantor Bupati Kepala daerah Kabupaten Sanggau. Sekarang bekas ibukota Kerajaan Tayan menjadi Ibukota Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau. Raja-raja tersebut dimakamkan di atas dimakamkan dikompleks makam Raja-Raja Tayan, serta makam Utin Belondo atau Ratu Utin Belondo didesa Kawat sekarang.

morfologi

Urban Heritage adalah objek-objek dan kegiatan di perkotaan yang memberi karakter budaya yang khas bagi kota yang bersangkutan. Keberadaan bangunan kuno dan aktivitas masyarakat yang memiliki nilai sejarah, estetika, dan kelangkaan biasanya sangat dikenal dan diakrabi oleh masyarakat dan secara langsung menunjuk pada suatu lokasi dan karakter kebudayaan suatu kota, salah satunya adalah keberadaan Keraton Pakunegara Tayan yang menunjuk pada sebuah lokasi dan karakter kebudayaan dari Kota Tayan.

Keraton Pakunegara Tayan adalah salah satu bentuk peninggalan sejarah Bangsa Indonesia dan merupakan hasil karya budaya yang sangat tinggi nilainya, khususnya berkaitan dengan perkembangan kebudayaan keraton-keraton Melayu di Kalimantan Barat. Kenyataannya, perkembangan Kawasan Keraton Pakunegara Tayan kini baik dari segi guna lahan dan bangunannya, kurang diperhatikan keberadaannya sebagai kawasan bersejarah dimana kondisi fisik bangunan perlu ditangani khusus. Selain itu, terdapat kendala dalam kegiatan pelestarian keraton, terkait dengan kendala dana dan kurangnya dukungan serta keterlibatan masyarakat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s