Home

Pada masa pemerintahan Natakusuma inilah tercatat bahwa beliau yang mula-mula mengikat perjanjian dengan Nederland Indie Gouverment pada bulan November tahun 1822. Panembahan Natakusuma mangkat pada tahun 1825 dengan tidak meninggalkan seorang putra. Maka yang menggantikan menjadi Raja Tayan adalah saudaranya Panembahan Tua yaitu Utin Belondo yang bergelar Ratu Utin Belondo (Ratu Tua) sedangkan yang menjalankan pemerintahan kerajaan adalah suaminya Gusti Hasan Pangeran Ratu kusuma dengan gelar Panembahan Mangku Negara Surya Kusuma.

Pada tahun 1855 Panembahan Mangku Negara Surya Kusuma wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Gusti Inding yang bergelar sama dengan ayahnya. Juga bergelar Panembahan Haji.
Dalam tahun 1858 oleh pemerintahan Belanda (Gouverment Hindia Belanda) gelar beliau diganti menjadi Panembahan Anom Pakunegara Surya Kusuma. Pada masa itu terjadi peperangan antara kerajaan Tayan dengan Kerajaan Landak (Ngabang). Oleh karena beliau sudah sangat tua, maka roda pemerintahannya diserahkan kepada adiknya yang bernama Gusti Karma. Beliau meninggal dunia pada tanggal 23 November 1873 (1290 H) di Batang Tarang.

Gusti Karma kemudian diangkat menjadi Raja Tayan dan diberi gelar Panembahan Adi Ningrat Kusuma Negara dan beliau memerintah hingga tahun 1880 yang kemudian digantikan anaknya bernama Gusti Muhammad Ali disebut pula dengan nama Gusti Indung bergelar Panembahan Pakunegara Kusuma dinobatkan menjadi Raja tayan di Rayang. Beliau beristrikan Utin fatimah dan memperoleh 12 anak. Dalam masa pemerintahan beliau, mengikat kontrak baru dengan pemerintahan belanda yaitu Akte Van Verband en Bekrachting di Rayang, 2 April 1880, Goedgekeurd 23 April 1883 Nomor 12. Dalam masa pemerintahannya Ibukota tempat kedudukan Raja dipindahkan dari Istana Rayang ke Tayan (berawal di kawasan Teluk Kemilun dan kemudian berpindah ke Desa Pedalaman hingga saat ini) dan sekaligus membangun istana/keraton baru yang dibangun oleh rakyat Tayan untuk Raja Tayan. Keraton ini hingga pada saat ini masih berdiri dan ditempati oleh para ahli warisnya.

Pada tanggal 26 Februari 1890 oleh Gouverment Hindia Nederland, Kerajaan Meliau dimasukkan kedalam wilayah/daerah Kerajaan Tayan. Panembahan Gusti Muhammad Ali memegang jabatan selama 15 tahun (1890 s/d 1905), beliau wafat dan dimakamkan dikompleks Makam Raja-Raja Tayan didesa kawat sekarang (jaraknya 0,5 km dari Keraton). Sejak dipindahkan pusat kerajaan dari Rayang ke tempat yang baru, dan bertempat tinggal diistana/keraton tersebut telah sempat memerintah 4 orang Panembahan, yaitu :

  1. Gusti Muhammad Ali (Panembahan Pakunegara Kusuma) 1875 – 1905 M
  2. Gusti Tamdjid (Panembahan Anom Pakunegara) 1905 – 1929 M
  3. Gusti Djafar (Panembahan Anom Adi Negara) 1929 – 1943 M
  4. Gusti Ismail (Panembahan Anom Pakunegara) 1946 – 1967.

Zaman pemerintahan Gusti Ismail tetap menjadi Raja Tayan sampai pada masa pemerintahan Swapraja diserahkan pada tahun 1960. Tetapi beliau masih bekerja terus sebagai Wedana Tayan. Dalam kedudukan sebagai Wedana Tayan, Gusti Ismail dipindahkan dan diperbantukan dikantor Bupati Kepala daerah Kabupaten Sanggau. Sekarang bekas ibukota Kerajaan Tayan menjadi Ibukota Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau. Raja-raja tersebut dimakamkan di atas dimakamkan dikompleks makam Raja-Raja Tayan, serta makam Utin Belondo atau Ratu Utin Belondo didesa Kawat sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s